Beranda Opini Sang Bijak Bestari Turun dan Mengangkat

Sang Bijak Bestari Turun dan Mengangkat

47
0
BERBAGI

Sekretariat RASI, 25 Jumadil Akhir 1440 H
Gurumu dengan kearifannya berupaya turun menghampiri pikiranmu. Kamu pun dengan semangat belajarmu mesti berupaya naik ke pikiran gurumu.
Tuhanmu dengan kasih sayang-Nya turun menghampiri bahasamu. Kamu pun dengan semangat pencarianmu mesti naik memahami bahasa Tuhanmu.
Rekan, sahabat dan saudara(i) Sekalian….
Bagi sang arif-bijaksana, tak ada bedanya Jawa, Inggris, Arab, Indonesia, bahkan dunia dan jagad raya, termasuk orang bisu dan orang buta. Dalam kebenaran relatif, semua bisa menjadi benar, semua bisa menjadi salah, tergantung dari sudut mana melihantanya.
Arif-bijaksana telah mengenal (bukan mengetahui) sepercik cahaya kebenaran absolut, sehingga tidak kebingungan dalam perselisihan, dia tahu dari mana perselisihan itu muncul, dan tentu saja tahu pula cara meredamnya untuk mengembalikan pada satu kata asal muasal kemanusiaan. Kemanusiaan semesta, humanisme universal, uomo universale. Tugasnya hanya satu menebarkan cinta metta karunia — misi rahmatan lil’alamin — kasih-sayang-cinta bagi alam semesta.
Kelompok inilah yang hampir tak pernah ada perselisihan dalam memandang dan menyikapi hampir seluruh perkara. Sang Budha Sidharta Gautama, Bunda Theresa, Yesus Isa Al-Masih, Kong Hu Cu, Lao Tze,, Thomas Jefferson, Abu Hamid Al Ghazali, Mansyur Al Hallaj, Syech Sitti Jenar, Musa (Moses), Raja Sulaiman (King Solomon) dst. Mereka semua berada di area millah Ibrahim (Abraham), komunitas nabi-nabi langitan dan ‘nabi-nabi sosial’ berbendera ‘agama publik’ bonum commune-bonum publicum, ‘ruh absolute’ .
Arif- bijaksana adalah puncak dari gunung pemikiran, tangga terakhir manusia pemikir yang menurut Edison stok-nya hanya berkisar 1-5 % dari jumlah manusia di dunia. Tapi kehadiran mereka selalu ada pada setiap zaman dan setiap umat-bangsa.
Mereka yang sepanjang hidupnya bergelut dan bergulat dalam tempaan kawah candradimuka kepedih-perihan ramuan pengetahuan, proses kontemplasi sampai pada saatnya tiba untuk menyampaikan ‘risalah’ khazanah keagungan Ilahi, Dzat yang Maha kudus (Ruuhi).
Bahkan kemunculannya sering tak terdeteksi zaman, kecuali hanya tanda-tanda kondisi sebagai indikasi kemunculannya untuk tampil menyampaikan kedamaian, ketenteraman dalam diri setiap umat manusia. Bijak bestari sang arif-bijaksana, siapakah dan dimanakah dia? Adakah kita menemukannya diantara kita?
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ibrahim : 4)
Selamat berakhir pekan saudara-saudara sekalian. Semoga kita selalu diberkahi dari sisi-Nya. Amin Allahumma Amin….
Wassalam
Sekretariat RASI, 25 Jumadil Akhir 1440 H
*ama*
#RASI #Spiritual #Kembangan #RASIeducation. Ahmad Safei. S. H

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here