Beranda Opini Saling Melenyapkan. Wk. Jakarta. Kembangan. 10. Desember 2020

Saling Melenyapkan. Wk. Jakarta. Kembangan. 10. Desember 2020

39
0
BERBAGI

Penulis: Umar Usman

Pagi hari berawan, mentari bertahta di ujung jemur. Agak redup. Sepertinya akan turun hujan.Ya, memang sedang musim “air kasih membasahi bumi.” Saya membaca tulisan bro Yus di wall facebook-nya. Tulisan keren, tentang warga Amrik yang palung jiwa dan akalnya melimpah energi perdamaian. Sangat mendambakan harmonisasi kerukunan, insan-insan dalam ikatan kasih.

Seturut dengan itu, pikiran saya berjalin kelindan dengan kecamuk dan penuh harap akan elok dan moleknya persaudaraan dan persahabatan. Saya benci dengan bedil, saya muak dengan bau mesiu. Tak suka sangat dengan serdadu bersimbah darah dan meregang nyawa.

Epos heroik kepahlawanan adalah tolong menolong, empati, peduli, dan merasa senasib sepenanggungan. Perkasa dan digdaya, ketika kita dapat berbuat meringankan beban kesusahan dan kesulitan sesamanya tanpa syarat.

Retorika, strategi, trik muslihat dengan deplomasi atas nama perdamaian dan kemanusiaan oleh segerombolan orang-orang untuk melenyapkan sesamanya dengan bedil dan peluru, merupakan cara biadab dan melampaui garis damarkrasi nalar dan kalbu kemanusiaan. Kebejadan moral yang paling naif.

Korban bergelimpangan tertembus peluru akibat perang, anak-anak tak berdaya dan suci menghembuskan napas hidup dan sakratul maut tak terelakan. Ekses peluru yang dilesatkan lewat bedil. Alat pembunuh yang paling sadis dan kejam. Karsa dan budidaya manusia memproduksi bedil dan mesiu dengan teknologi tinggi adalah alat pembunuh masal yang paling masif abad ini. Sungguh durjana!

Pemuda perkasa, para serdadu. Ribuan bahkan jutaan tertembus peluru, bersimbah darah dan tewas. Paralel dengan itu, jutaan perempuan menjadi janda dan berdaun-daun anak-anak kehilangan pengayom hidupnya. Ayah mereka gugur di medan tugas. Apa lacur, ini konsekwensi perang. Saling melenyapkan atas nama kepahlawanan, membela negara, dan kebanalan arogansi merasa hebat dan berani.

Ambisi politik memproduksi bedil dan mesiu dari pengusa yang berkuasa. Sisi lain untuk melindungi dan mempertahankan kedaulatan negara. Namun, sisi hitamnya atas nama diplomasi perdamaian dunia untuk mendapatkan ‘pulus dan minyak bumi.’ Seperti itu realitasnya.

Untuk dan atas nama topeng kemanusia, segala cara digunakan. Agitasi dan fitnah kejam dijadikan propaganda dan Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang dijadikan tumbal untuk melenyapkan sesama insan. Huf!

Memungkasi tulisan ringan ini, dua paragraf tulisan bro Yus, saya jadikan penutup, “Saya bersama mereka saat bom jatuh dan menghancurkan kota. Saya ketakutan sambil bertanya, di manakah TUHAN? Apakah Engkau sedang bersama mereka yang menderita di peperangan ini?”

Saya mengenang kalimat-kalimatnya. Pernah, saya tak tahan untuk bertanya sesuatu. “Bisakah kita hentikan perang yang serupa virus telah menggerogoti manusia di zaman sekarang?” Begitu.
M. Riski Saputra
Kembangan, 10 Januari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here