Beranda Opini Rekam Jejak Jalan Spiritual Sosok Tentara Tuhan

Rekam Jejak Jalan Spiritual Sosok Tentara Tuhan

63
0
BERBAGI

Wk |Jakarta 11. Agustus 2019.

Penulis: Umar Usman

Lima tahun terakhir kami saling akrab karena selalu bersama dalam kajian Forum Silaturahmi Pembina dan Pengayom 4 RASI, setiap dua kali dalam sebulan, bertempat di Aula Yudistira RASI Pusat Kembangan, Jakarta Barat. Laki-laki bertubuh tinggi dan atletis ini pendiam dan berbicara seperlunya. Setiap bertemu kami saling salaman dan bertegur sapa, sebagaimana kultur dan tradsi dalam komunitas kami.

Berprofesi sebagai tentara, sikap dan karakter hidup disiplin itu yang mengkristal dari sohib yang satu ini. Sekelumit riwayat hidup saudara lahir batin kita ini adalah Kastari, AMd. Kep., dan akrab kami panggil Pengayom Kastari. Sebagai tentara marinir berpangkat Letnan Dua Laut (K), matra TNI Angkatan Laut.

Prajurit yang selalu senyum ramah dan sopan ini kelahiran kota Pemalang, Jawa Tengah 37 tahun yang lampau. Sebagai Islam yang taat, dalam pergaulan selalu menjaga hubungan baik dalam bersilaturahmi dengan relasi dan kawan-kawannya.

Pengayom Kastari mengenyam pendidikan umum Sekolah Dasar tamat tahun 1989, SMP lulus tahun 1995, dan SMA selesai tahun 1998. Selanjutnya melanjutkan pada jenjang D3 Akademi Perawat Keris Husada dan tamat pada 2008.

Histori Pendidikan Militer yang pernah ditempuh dan diikuti adalah Dikcaba PK TNI AL Angk. XX _ Pendidikan Calon Bintara Prajurit Karir tamat dan dilantik dengan pangkat Sersan Dua TNI AL pada 2002. Jenjang selanjutnya mengikuti Pendidikan Komando Marinir _Dikko Angkatan 121 tamat pada 2003. Memparipurnakan karir militernya, Pengayom 4 RASI ini baru saja lulus dan dilantik sebagai perwira pertama Letnan Dua, setelah menempuh Diktukpa_ Pendidikan Pembentukan Perwira TNI AL Angkatan XLVIII Tahun Angkatan 2018.

Pengalaman kompetensi jabatan selama meniti prajurit karir , Pengayom Kastari dimulai sebagai bintara dengan pangkat Sersan Dua Marinir pada kesatuan Yonif-2 Mar_ Batalion 2 Marinir Jakarta pada 2003 sampai dengan 2006. Selanjutnya mendapat promosi kenaikan pangkat Sersan Satu Marinir dengan jabatan sebagai Setum / Setpri Komandan Korps Marinir pada 2006 sampai dengan 2011.

Dasar pendidikan alumni Akademi Perawat, sohib kita Pengayom Kastari kembali mendapat amanah jabatan baru promosi pindah kejuruan dari Korps Marinir ke Korps Kesehatan dengan pangkat Sersan Kepala Rum_ Dinas Kesehatan Korps Marinir pada 2011 sampai dengan 2018.

Nasib mujur didapatkan oleh kawan kita Kastari. Setelah lulus dan dan dilantik sebagai perwira pertama dengan pangkat Letnan Dua Laut (K), bertugas pada BP Lanal Ranai – Lantamal IV TPI pads 2018 sampai dengan sekarang.

Sebagai tentara dengan matra angkatan laut_ Korps Marinir, sekelumit riwayat penugasan yang pernah dilaksanakan, antara lain bertugas dalam operasi militer Satgasmar Rencong Sakti XXV NAD pada 2004 sampai dengan 2005 dan Satgas Kemanusiaan tsunami Aceh pada 2005 juga pernah mengemban tugas sebagai Satpamwal Mabes TNI pada 2006.

Sebagai prajurit perkasa dan tampan Pengayom Kastari, putra tercinta dari bapak Rasnoto dan ibu Siti Wasilah_ Almmarhumah.
Tuhan Maha Sempurna, lengkaplah kebahagiaan Pengayom Kastari. Anugerah jodoh pun didapatnya dengan menikahi isteri yang sangat dikasihinya drh. Diana Shinta Dewi. Lebih lengkap kebahagiaan itu setelah dikarunia putra M. Chandra Mustikajaya, berumur 9 tahun dan M. Firdaus Abdul Rahman 3 tahun.

Bungarampai rekam jejak berspiritual di alam RASI_ Masyarakat Spiritual Indonesia. Bermula pada Agustus 2005 setelah selesai melaksanakan tugas operasi militer dan kemanusiaan di provinsi Nangroh Aceh Darussalam, takdir Tuhan mempertemukan Pengayom Kastari dengan orangtua lahir batin, saat itu Firman Muhammad Ahmad Sobri dan isterinya Siti Hawa Sagiyanti tepatnya di Pos Mawar, Mustikasari, Bantar Gebang, kota Bekasi, dengan perantara saudara lahir batin M. Risnoto yang saat itu kebetulan adalah anggota di batalyon infanteri 2 Marinir.

Sebelum berangkat tugas operasi militer ke Aceh memang sudah ada pertanyaan didalam benaknya. Apakah ada cara lain untuk mendekatkan diri kepada Tuhan selain dengan menjalankan Sholat?

Selama satu tahun bertugas operasi militer di Aceh dari tempat tugas satu ke tempat tugas lainnya sahabat Kastari mencari dan bertemu dua tokoh agama terkenal cendekia dan religius bergelar Teuku_ guru atau mursyid yang mumpuni ilmu hakikat. Pertanyaan sohib kita Kastari apakah Islam yang sesungguhnya itu? Melatar belakangi pertanyaan mendasar ini, karena Aceh yang notabenenya bergelar Serambi Mekkah. Ternyata tidak ada satu jawaban hakiki yang memuaskan.

Sebelum fenomena bencana alam tsunami di Aceh pada 2005, kawan kita Kastari bertemu dengan salah satu penceramah yang diutus oleh Kantor Kementerian Agama provinsi NAD bernama Teuku Abdul Rauf, tiba-tiba menyambangi di pos yang tempatnya tidak jauh dari Meunasah _Mushola tempat dia ceramah, beliau langsung menyalami kemudian berbincang-bincang cukup lama, akhirnya sohib kita Pengayom Kastari bertanya dengan pertanyaan yang selama ini belum bertemu jawabanya. Sesepuh Teuku Abdul Rauf menerangkan, “Kalau bapak mau mencari ahli kitab, ahli agama, dan ahli segala nya tentang Islam orangnya ada di Jakarta”

Sekembali bertugas operasi kemanusiaan dari Aceh dan setelah tiba di Jakarta akhirnya Pengayom Kastari bertemulah dengan oranggtua lahir batin M. Ahmad Sobri.

Setelah bertemu dengan Pengayom M. Ahmad Sobri ternyata hanya diberi satu pertanyaan apakah arti Bismilah? Akal, pikir, dan hati saat itu dihiasi kesombongan karena sudah merasa cukup dengan ilmu syariat.

Pengayom Kastari langsung tunduk terkulai dengan penjelasan bahwa Ruuhi yang selama ini bersama kita tidak pernah disadari bahkan kita tidak mengetahui bahwa betapa dahsyatnya Kuasa Tuhan diri ini. Akhirnya malam itu juga sohib Kastari menerima pewarisan doa dan bergabung masuk alam RASI di Pos Mawar, Bantargebang, Bekasi.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan pembuktian demi pembuktian pun Ayom Kastari alami dan sangat luar biasa perubahan yang terjadi pada dirinya. Mendapat fitnah mengikuti aliran sesat dan disebut kafir bahkan sempat diberitakan di lapangan apel Brigade Infanteri BS Cilandak dan
satuan-satuan dibawahnya bahwa ada ajaran baru yang menyesatkan sudah masuk ke jajaran Marinir. Ayom Kastari mulai dipanggil oleh Danton_ Komandan Peleton, Danki_ Komandan Kompi, dan Pasintel_ Perwira Seksi Intel yang intinya bahwa Ayom Kastari sudah dianggap keluar dari rel ajaran Islam yang benar. Semenjak itu gerak-gerik Ayom Kastari selalu dipantau dan diawasi oleh satuan tempatnya bertugas.

Namun itulah awal mula Ayom Kastari diangkat derajat, harkat, dan martabatnya oleh Allah dari jabatan Danru_ Komandan Regu di Batalyon Infanteri lalu mendapat mutasi dan promosi pindah ke Mako Kormar_ Markas Komando Marinir, menjabat sebagai staf yang langsung berhubungan dan melayani langsung administrasi surat menyurat orang nomor satu di Korps Marinir, Dankormar_ Komandan Korps Marinir, saat ini telah purnawirawan dan sudah mengenal mursyid kita Abang Bulganon Amir. Beliau adalah Letjen TNI (Mar) Purn. Safzen Nurdin, SIP.

Setelah dinas di Mako Kormar keadaan perekonomian meningkat dan mendapat rezeki dari Allah membeli rumah dan meneruskan Pendidikan D3 di Akper Keris Husada.

Dinamika perjalanan spiritual Ayom Kastari seiring berjalanya waktu pada 2011 akhir terjadilah konflik internal antara umat_ saat itu di forum ke nurkarim_ jenjang reng-rengan RASI ada selisih faham dengan orangtua lahir batin, saat itu Pengayom Daerah M. Ahmad Sobri. Atas kejadian itu kami dipanggil oleh Mursyid Abang Bulganon Amir untuk dimintai klarifikasi mengenai pembinaan yang selama ini diterapkan di pos Mawar. Pada 2013 sampai 2016 mengalami fenomena putus hubungan silaturahmi baik dengan Pos Mawar maupun Kembangan. Selama masa vakum justru angin surga berhembus sangat luar biasa terutama masalah keuangan yang luar biasa dari mulai jadi calo sampai larut dalam bisnis uang gaib Sukarno sampai menggadaikan surat tanah dan menggunakan uang orgtua.

Namun saat itu justru Tuhan memberikan jalan dan tidak lain dan tidak bukan langsung menghadap ke Kembangan bertemu Mursyid Abang Bulganon untuk mohon arahan dan nasihat. Atas bimbingan dan petunjuk melalui silaturahmi rasa was-was sedikit demi sedikit mulai berkurang dan mulai menemukan ketenangan diri dan kekuatan untuk menghadapi segala masalah yang terjadi.

Seiring berjalanya waktu pada 2018 yang lalu Ayom Kastari mengikuti tes Diktukpa_ Pendidikan Pembentukan Perwira Angk. XLVIII TA. 2018 dan Tuhan memberikan kesempatan kepada Ayom Kastari menjadi seorang perwira TNI AL. Allah Maha Mengatur perjalanan hidup manusia. Ayom Kastari sebagai Perwira Ksatria tak lebih menjalani kehendak dan pengaturan Tuhan.

Sekilas kisah bungarampai fenomena selama menjalani hidup berspiritual di alam RASI yang Ayom Kastari temukan, jalani, nikmati, dan syukuri.
M. Riski Saputra
Kembangan, 11 Agustus 2019


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here